Di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, tersembunyi dua candi kuno yang penuh misteri: Candi Angin dan Candi Bubrah.
Candi Angin, yang berada di ketinggian 1.200 mdpl, dikenal karena struktur bangunannya yang kokoh meski diterpa angin pegunungan.
Nama “Candi Angin” diambil dari kekuatan bangunan yang bertahan melawan angin, dan beberapa masyarakat percaya candi ini dulunya merupakan tempat penyembahan Dewa Angin.
Candi Angin dan Prasasti Larangan Poligami
Menurut para peneliti, Candi Angin diperkirakan lebih tua dari Candi Borobudur dan mungkin merupakan peninggalan Kerajaan Kalingga.
Menariknya, candi ini tidak memiliki ornamen Hindu-Budha, yang menimbulkan spekulasi bahwa candi ini mungkin dibangun oleh manusia purba.
Di teras ke-V situs ini, ditemukan sebuah prasasti batu andesit yang kini disimpan di Museum Kartini, Jepara, dilansir dari situs resmi radarkudus.co.id
Prasasti tersebut berisi larangan poligami dan menggunakan bahasa Jawa Kuno, yang mungkin berasal dari era Kerajaan Majapahit pada abad ke-13 hingga ke-14.
Candi Bubrah: Pintu Gerbang ke Candi Angin
Tak jauh dari Candi Angin, terdapat Candi Bubrah, yang bisa dikatakan sebagai gapura menuju Candi Angin.
Sesuai namanya, “Bubrah” berarti rusak atau tak beraturan, menggambarkan kondisi bangunan candi yang sudah tidak berbentuk lagi.
Candi ini diperkirakan juga dibangun pada masa sebelum Candi Borobudur. Menurut legenda lokal, candi-candi ini dibangun oleh Resi Wigotoyoso, yang memiliki kemampuan ajaib untuk membuat batu-batu datang sendiri dan membentuk candi.
Mitos dan Fakta
Selain sebagai objek wisata sejarah, Candi Angin dan Candi Bubrah juga dipenuhi cerita-cerita mitos.
Misalnya, di Candi Bubrah, terdapat legenda tentang Padepokan Gendalisodo Eyang Anoman, tempat pembukaan kitab Mahabharata pada masa Ratu Sima dari Kerajaan Kalingga.
Meskipun begitu, fakta-fakta sejarah dan mitologi yang melingkupi candi-candi ini tetap menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung yang ingin menyelami jejak sejarah yang masih tersimpan rapi di tengah alam pegunungan.