Operasi tanggap darurat bantuan kemanusiaan di Jalur Gaza hampir sepenuhnya terhenti pada Kamis (8/5/2025), lebih dari dua bulan. Ini terjadi setelah blokade total Israel menyebabkan krisis pasokan makanan dan bahan bakar yang parah di wilayah tersebut.
Meski situasi memburuk, Israel membantah adanya krisis kemanusiaan dan menyatakan akan memperluas operasi militernya guna menekan kelompok Hamas untuk membebaskan para sandera yang ditahan sejak serangan besar-besaran pada Oktober 2023.
“Sebanyak 75% kendaraan kami tidak dapat beroperasi karena kekurangan solar,” ujar Mahmud Bassal, juru bicara Badan Pertahanan Sipil Gaza kepada AFP.
Ia juga menyebut kekurangan parah generator listrik dan perangkat oksigen mengancam kelangsungan layanan darurat.
Sejak berminggu-minggu lalu, badan-badan PBB dan organisasi kemanusiaan telah memperingatkan bahwa stok bahan bakar, makanan, air bersih, dan obat-obatan semakin menipis di Gaza, wilayah pesisir yang dihuni oleh sekitar 2,4 juta warga Palestina.
“Tidak dapat diterima bahwa bantuan kemanusiaan masih belum bisa masuk ke Gaza,” tegas Pierre Krahenbuhl, Direktur Jenderal Komite Palang Merah Internasional (ICRC), dalam konferensi pers di Jenewa.
Menurut Krahenbuhl, kondisi Gaza saat ini berada di ujung tanduk dan beberapa hari ke depan akan menjadi sangat krusial.
Sementara itu, UNICEF memperingatkan bahwa anak-anak di Gaza menghadapi risiko kelaparan, penyakit, dan kematian yang meningkat setelah dapur umum yang didukung PBB terpaksa tutup karena ketiadaan pasokan dari bantuan kemanusiaan.
Lebih dari 20 pakar independen PBB yang berada di bawah mandat Dewan Hak Asasi Manusia mendesak tindakan segera untuk mencegah pemusnahan massal warga Palestina di Gaza.
Pada Kamis, serangan udara Israel kembali memakan korban. Mohammad Mughayyir, pejabat senior pertahanan sipil Gaza, menyatakan bahwa 19 orang tewas, termasuk sembilan anggota keluarga Abu Rayyan dalam serangan di Beit Lahia, Gaza Utara.
Di tengah krisis ini, warga Gaza tetap menunjukkan solidaritas. Di Khan Yunis, warga terlihat mengantre untuk menyumbangkan darah bagi para korban luka, meskipun dihadapkan pada kelangkaan makanan dan protein.
“Dalam kondisi sulit ini, kami hadir untuk membantu,” ujar Moamen al-Eid, seorang warga yang ikut menyumbangkan darah.
Hind Joba, kepala laboratorium rumah sakit, menambahkan bahwa meski warga tidak punya akses makanan bergizi, mereka tetap mengorbankan tubuh mereka untuk menyelamatkan sesama.
Israel kembali melancarkan operasi militer besar di Gaza pada 18 Maret 2025, seusai perundingan gencatan senjata menemui jalan buntu. Pada Senin, kabinet keamanan Israel menyetujui peta jalan baru yang bertujuan menaklukkan Gaza, sembari memicu kecaman internasional karena dugaan upaya penggusuran massal penduduk.
Seorang pejabat keamanan Israel menyebut bahwa masih ada jendela negosiasi pembebasan sandera hingga kunjungan Presiden AS Donald Trump ke kawasan Teluk pada 13–16 Mei 2025.
Namun, Hamas menolak kesepakatan parsial dan tetap menuntut perjanjian menyeluruh untuk mengakhiri perang.
Sejak serangan balasan Israel atas insiden 7 Oktober 2023, setidaknya 52.760 orang tewas di Gaza, sebagian besar adalah warga sipil, menurut data Kementerian Kesehatan Gaza yang penghitungannya dinilai kredibel oleh PBB.
Kini warga Palestina di ujung tanduk karena terhentinya operasi bantuan kemanusiaan di Gaza. dilansir dari situs resmi beritasatu co.id.