Hingga kini Kasus Vina Cirebon masih berlangsung di meja hijau. Para terpidana kasus Vina tersebut mengajukan Peninjauan Kembali (PK) untuk membuktikan bahwa mereka bukan pelaku pembunuhan Eky dan Vina yang terjadi 2016 silam.
Mereka meyakini kematian Vina dan Eky adalah kecelakaan.
Selama Sidang PK tersebut, misteri kondisi motor Eky dalam kasus Vina Cirebon itu pun kembali dipertanyakan. Pasalnya, kondisi motor Eky yang selama ini tak ditampilkan ke publik itu dinilai bisa menguak motif kasus Vina Cirebon karena kecelakaan.
Dalam Sidang PK terpidana kasus Vina, hampir semuanya mengarah pada dugaan bahwa Eky dan Vina tewas karena kecelakaan. Para saksi pun mengungkap kesaksian yang mengarah pada peristiwa pertama kali Eky dan Vina ditemukan di Jembatan Talun.
Sejumlah saksi mengarahkan kesaksiannya soal kecelakaan Eky dan Vina. Seorang saksi bernama Adi dan Ismail, misalnya mereka mengaku melihat kecelakaan Eky dan Vina pada 2016 silam.
Adi mengaku melihat Eky mengendarai motor secara ugal-ugalan di Jembatan Talun, Cirebon. Ia mengungkap sebelum kecelakaan terjadi, Eky mengendarai motornya zig-zag hingga akhirnya hilang kendali.
“Zig-zag bahasa saya naik motor belok-belok ngesrek kurang keseimbangan Menurut saya kemungkinan direm depan kurang keseimbangan,” ujar Adi. Saksi bernama Adi itu mengungkap peristiwa kecelakaan Eky dan Vina itu terjadi sekira pukul 10 lebih malam.
Adi menjelaskan saat kecelakaan itu terjadi, Eky terjatuh dari motornya kemudian membentur tiang lampu penerangan jalan di tengah Jembatan Talun.
“Kalau gak kena tiang nyeberang median jalan. Orangnya (bentur tiang PJU),” ujar Adi, dikutip dari Tribun Bogor, Rabu 9 Oktober 2024. Adi menegaskan dirinya melihat Eky yang menghantam tiang tersebut bukan motornya.
“Di situ saya tidak pernah mengatakan ada tiang bengkok, orangnya tuh ngantem tiang. Telungkup semua,di pinggir mepet. Terus di balik, darahnya mepet trotoar,” paparnya Adi.
Lebih lanjut, Adi justru mengungkap keheranannya soal satu hal.
Ia merasa ada kejanggalan karena meski 8 tahun berlalu, tidak ada foto motor Eky setelah kecelakaan di Jembatan Talun tersebut. Namun, hingga kini hanya beredar foto Vina dan Eky yang tergeletak di pinggir jalan.
“Kenapa foto motor roboh gak ada. namanya orang jatuh motor pasti roboh. kan gak ditunjukin,” kata Adi. Padahal, menurut Adi kemungkinan foto motor Eky tersebut dapat menjadi bukti krusial dapat menguatkan motif kecelakaan dalam Kasus Vina Cirebon tersebut.
Ternyata Iptu Rudiana sudah mengaku bahwa Kasus Vina Cirebon yang merenggut nyawa anaknya, Eky dan Vina karena kecelakaan. Hal ini diungkap oleh teman Eky, Fransiskus Marbun. Fransiskus Marbun mengungkap Iptu Rudiana mengakui kasus Vina Cirebon karena kecelakaan sejak awal pada 8 tahun lalu.
Meski seorang polisi yang melihat anaknya tewas di sekitar flyover Talun, saat itu Iptu Rudiana ternyata tak menaruh curiga apapun. Sikap Iptu Rudiana itu bahkan sempat membuat teman-teman Eky kecewa. Padahal sebagai seorang polisi, seharusnya Iptu Rudiana mengusut terlebih dahulu peristiwa yang dialami oleh anaknya.
“Yang saya ingat memang pada malam itu jujur kita teman-teman Eky sempat kecewa sama Pak Rudiana, kenapa kayak bapak kan polisi, kenapa gak coba diusut,” kata Fransiskus Marbun dikutip dari Youtube Uya Kuya, Senin 12 Agustus 2024.
Seingat Fransiskus, pada malam itu Iptu Rudiana langsung mengakui kalau Eky dan Vina tewas karena kecelakaan.
“Beliau tanda tangan kalau anaknya meninggal karena kecelakaan. Makanya pada malam itu kita tahunya kecelakaan,” ujarnya.
Menurut Fransiskus, malam itu Iptu Rudiana datang dengan ekspresi wajah yang sangat sedih.
“Ekspresinya sedih, jedotin kepala juga ke pintu kamar mayat, pas baru dateng,” kata Fransiskus lagi.
Saat itu menurut dia, Iptu Rudiana sama sekali tidak menanyakan apapun kepada teman-teman Eky yang ada di RSUD Gunung Jati.
“Saya pribadi yang merasa punya helm, gak ngerasa ditanyain, sampai sekarang,” ungkapnya.
Bahkan hingga acara yasinan 3 harian di rumah Eky, Fransiskus Marbun dan teman-temannya masih mempercayai kalau keduanya tewas karena kecelakaan. Namun sekitar setelah satu mingguan, Fransiskus mendapat kabar bahwa ada pelaku pembunuhan yang ditangkap.
“Pelakunya ditangkepin, sejak kesurupan itu heboh, satu Cirebon kayaknya itu booming,” ungkap dia.
Sebelumnya, pihak keluarga yaitu kakak Vina Marliana awalnya meyakini kematian Vina bukan kecelakaan. Marliana menyebut bahwa jika memang Eky kecelakaan, mestinya motor kuning hijau yang dikendarai sudah rusak.
“Katanya motornya standing ugal-ugalan, kalau motor diangkat terus kepental harusnya motor itu sedikit pecah, tapi motor itu tidak ada yang pecah,” ujar Marliana saat diwawancara Nusantara TV.
Pasalnya, menurut saksi bernama Suroto, kondisi motor Eky saat ditemukan di Jembatan Talun tak mengalami rusak. Suroto menyoroti kondisi korban Eky dan Via yang mengalami banyak luka.
“Motor tidak apa-apa, tapi banyak luka di tubuh korban. Itu mukanya, baik laki-laki maupun perempuan, lebam semua seperti habis disiksa,” katanya.
Meski begitu, kini keluarga Vina mengaku bisa legowo jika seandainya kasus Vina disebut kecelakaan. Hal itu diungkap oleh kuasa hukum keluarga Vina, Raden Reza Pramadia. Reza mengatakan, keluarga Vina hanya ingin kasus ini segera selesai. Ia menyebut keluarga Vina tidak ngotot agar 8 terpidana tetap menjalani hukuman seumur hidup. Bahkan keluarga Vina legowo jika kasus ini diputus sebagai kecelakaan.
“Jadi memang harapan keluarga itu kasus ini segera selesai, terang benderang, dan juga bisa terjelaskan ada apa selama 8 tahun ini sampai kasus ini susah terungkap. Apapun nanti hasilnya pihak keluarga akan menerima dengan legowo,” ujar kakak kandung Vina.
Ia mengaku legowo jika putusan MA menyatakan kalau adiknya tewas karena kecelakaan, bukan pembunuhan.
“Kalau sidang ini dikabulkan berarti kesimpulannya adik saya ini kecelakaan, ya sudah tidak apa-apa. Kan yang tahu sebenarnya hanya Allah SWT,” kata Marliana.
Marliana pun tidak akan meminta kasus adiknya untuk diusut ulang.
“Kalaupun kita ngotot untuk bilang ini pembunuhan dan pemerkosaan seperti di awal, karena saya tidak punya bukti dan saksi, saya lemah,” tandasnya. Apalagi kata dia, kasihan jika 8 terpidana harus menjalani hukuman jika memang bukan mereka pelakunya.