Breaking News

Breaking News

Beranda » Etika Buruk Anggota DPR Jadi Tontonan Publik, Melukai Hati Rakyat yang Sedang Terpuruk
0 comment

Etika Buruk Anggota DPR Jadi Tontonan Publik, Melukai Hati Rakyat yang Sedang Terpuruk

Sungguh miris melihat apa yang dipertontonkan segelintir anggota DPR ketika diumumkan tunjangan DPR naik, mereka berdiri dan berjoget-joget tanpa malu-malu. 

Mereka tidak punya etika dan empati kepada masyarakat yang sekarang sedang kesulitan ekonomi. Namun mereka bersenang-senang, padahal gajinya berasal dari pajak dipungut dari semua elemen masyarakat.  

Kondisi ekonomi masyarakat semakin melemah, di mana gelombang PHK semakin banyak, dan susah memperoleh pekerjaan. Ditambah lagi biaya pendidikan dan kesehatan naik, kebutuhan bahan pokok juga naik seperti beras, menambah beban masyarakat  dan semakin terpuruk.  

Masyarakat sangat kecewa ketika kebijakan pemerintah akan menaikkan anggaran DPR Rp 50 juta untuk tunjangan rumah. 

Meskipun diklarifikasi oleh salah satu Wakil Ketua DPR sempat menyatakan bahwa tunjangan ini hanya berlaku sampai Oktober 2025, hal itu tidak mampu meredakan kemarahan publik. Inilah yang memicu protes masyarakat demo di DPR.

Anggota dewan yang berjoget di gedung parlemen, sementara masyarakat sedang mengalami kesulitan ekonomi. “Joget-joget di DPR itu juga melanggar etik, di saat rakyat lagi susah,” ujar Nazaruddin Dk Gam, Ketua Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI.

“Enggak ada di DPR untuk ini (joget), enggak ada itu yang kayak gitu. Akan saya tertibkan semua mereka,” katanya dia.

Aksi joget-joget yang dilakukan Eko Patrio, Uya Kuya menjadi sorotan dan kritikan karena dianggap telah melukai dan menghina rakyat. Meskipun mereka telah minta maaf kepada masyarakat, namun masyarakat hatinya sudah terluka yang mendalam. 

Baca Lainnya :  KPK Sita 2 Rumah Rp 6,5 M ASN Kemenag, Diduga Dibeli Pakai Fee Kuota Haji

Mereka membuat tersinggung banyak orang, mengingat kondisi ekonomi masyarakat sedang sulit. Di sisi lain, mereka justru mendapat kemewahan dengan sejumlah tunjangan dan fasilitas negara dengan menjadi anggota DPR. 

Tingkah laku anggota DPR tidak simpatik (etika buruk) ini telah memicu demo di DPR. Anggota DPR tidak lagi menyuarakan kegelisahan rakyat karena mereka hanya mementingkan kepentingan diri sendiri. 

Tidak salah masyarakat melakukan aksi demonstrasi untuk menolak kenaikan gaji dan tunjangan DPR sampai mengakibatkan Affan Kuniawan meninggal dunia dilindas mobil taktis Brimob Polri.

Perlu Belajar Etika dan Moral  

Jika kita melihat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang baru (KBBI, edisi ke-1, 1988), di situ “etika” dijelaskan dengan membedakan tiga arti, yaitu:

1. Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak).

2. Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak.

3. Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.

Setelah mempelajari penjelasan kamus pada arti pertama ditempatkan terdepan, Pertama kata “etika” bisa dipakai dalam arti: nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau kelompok dalam mengatur tingkah laku. Kedua, “etika’ berarti juga: Kumpulan asas atau nilai moral. Yang dimaksud di sini adalah kode etik. 

Baca Lainnya :  Mendikdasmen Umumkan Akan Hapus Program P5 dan Diganti Menjadi P7

Ketiga, “etika” mempunyai arti lagi: Ilmu tentang baik atau buruk. Etika baru menjadi ilmu, bila keyakinan-keyakinan etis (asas-asas dan nilai-nilai tentang yang dianggap baik dan buruk) yang begitu saja diterima dalam suatu masyarakat -sering kali tanpa disadari- menjadi bahan refleksi kritis bagi suatu penelitian sistematis dan metodis. 

Etika sebagai ilmu dapat membantu juga untuk menyusun kode etik. Etika dalam arti ketiga ini sering disebut “filsafat ilmu”

Dengan demikian, tingkah lalu anggota DPR saya sebutkan di atas secara etika termasuk dalam arti pertama atau terdepan telah dilanggar, yakni tidak mengindahkan nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau kelompok dalam mengatur tingkah laku.

Perlu Belajar Empati dan Rasa, Bukan Pikiran

Empati adalah kemampuan seseorang untuk merasakan, memahami, dan ikut merespons perasaan atau pengalaman orang lain seolah-olah dirinya yang mengalaminya. Ada tiga bentuk utama empati:

Empati kognitif yaitu kemampuan memahami pikiran, sudut pandang, atau apa yang dipikirkan orang lain.Empati emosional (afektif) yaitu kemampuan merasakan emosi orang lain, ikut larut dalam perasaan mereka.Empati penuh kasih (compassionate empathy) yaitu tidak hanya merasakan dan memahami, tetapi juga terdorong membantu atau meringankan penderitaan orang lain.

Baca Lainnya :  "Ketidakpastian yang Menghantui! Pigai Tak Punya Program 100 Hari Kerja"

Tingkah laku anggota DPR ketika joget-joget di sidang Perlemen, mereka tidak menunjukkan empati di mana kondisi masyarakat yang sedang terpuruk. 

Barangkali mereka pada lupa, hatinya telah tertutup, buta, dan tuli,  hanya mengedepankan kepentingannya, bersenang-senang tidak menghiraukan tuntutan masyarakat yang memilihnya.

Dalam hal ungkapan/kata “empati” yang menarik buat pelajaran kita adalah pernyataan dari Sri Sultan Hamengkubuwono X Gubernur DIY, ketika disampaikannya pada awal September 2025 setelah menemui perwakilan demonstran di Yogyakarta, beliau menghimbau agar para pemimpin daerah memiliki empati tinggi terhadap kondisi masyarakat dan mengedepankan rasa dalam menyikapi aspirasi demonstran.

Setelah menemui perwakilan demonstran, Sri Sultan Hamengkubuwono X menekankan pentingnya pemimpin daerah untuk memiliki empati tinggi dan menggunakan rasa, bukan hanya pikiran, dalam mendengarkan serta mengkondisikan aspirasi masyarakat.

Dalam momen sebuah video, ucapan beliau mungkin yang saya tangkap, “Kalau hanya menggunakan pikiran, terpikirnya di otaknya hanya ingin menang. Kalau kita menunjuk pada hati dalam tubuh (menunjuk dada), maka kita ada rasa, ada empati. Rasa inilah yang harus kita jaga.” dilansir dari situs resmi  kompasiana co.id

Leave a Comment

javanica post

Javanica Post adalah portal berita online yang dikelola oleh PT. Javanica Media Digital, salah satu anak perusahaan dari Javanica Group.

Edtior's Picks

Latest Articles

©2024 javanica post. All Right Reserved. Designed and Developed by PEH Digital Agency