Breaking News

Breaking News

Beranda » Indonesia Rawan Tuberculosis Naik Ke Peringkat 2 Dunia
0 comment

Indonesia Rawan Tuberculosis Naik Ke Peringkat 2 Dunia

Jumlah penderita Tuberkulosis (TBC) di Indonesia semakin meningkat. Dari peringkat terbanyak kelima, kini jumlah TBC semakin banyak. Sehingga Indonesia menaiki peringkat terbanyak kedua.

Sedangkan peringkat terbanyak penderita TBC pertama di dunia adalah India.

Jelas saja, hal ini mengkhawatirkan kondisi kesehatan di tanah air. Terlebih lagi  TBC ini merupakan penyakit menular.

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Nihayatul Wafiroh masalah ini harus menjadi perhatian khusus pemerintah.

Pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan harus mencari jurus jitu untuk meminimalisir angka penderita TBC tersebut.

“Kita ini sudah naik peringkat. Dari dulu peringkat ke-5 sekarang menjadi peringkat ke-2. Nah, satu langkah lagi sudah menjadi peringkat pertama,” ungkapnya setelah mengikuti Rapat Panitia Kerja (Panja) Percepatan Eliminasi TBC bersama sejumlah organisasi profesi, lembaga masyarakat sipil, dan kementerian terkait, di Gedung DPR RI, di Jakarta, awal minggu ini.

“Tentunya kita perlu sangat waspada bagaimana untuk bisa menurunkan TBC ini,” sambung Nihayatul Wafiroh.

Diketahui, Indonesia saat ini masih menghadapi persoalan ketergantungan terhadap impor obat-obatan TBC.

Atas dasar itu, Nihayatul merasa miris bahwa negara belum memiliki kemandirian dalam memproduksi obat itu.

Soalnya, obat itu sangat dibutuhkan dalam proses penyembuhan yang cukup panjang.

Seperti, harus menjalani pengobatan rutin minimal enam bulan dan itu memerlukan kedisiplinan serta pengawasan ketat dari petugas layanan kesehatan.

“Kalau tidak ada supervisi yang konkret, belum tentu pasien mau atau telaten minum obat setiap hari. Di sinilah pentingnya peran puskesmas atau pos pengendalian TBC untuk benar-benar mengontrol,” paparnya.

Selain itu, keterbatasan alat deteksi dini seperti Tes Cepat Molekuler (TCM) juga menambah angka penderita TBC.

Soalnya, dengan terbatasnya TCM itu

menjadi kendala serius karena belum tersedia secara merata di seluruh wilayah Indonesia.

“Padahal, alat ini dapat mendeteksi TBC melalui sampel air liur secara cepat dan akurat,” ungkapnya.

Dengan belum bisanya negara memproduksi obat dan terbatasnya TCM, menjadi tantangan utama dalam penanganan TBC di tanah air.

Selain kedua kendala itu, masih ada kendala lain, yakni rendahnya kesadaran masyarakat bahwa penyakit ini bersifat menular.

“Apalagi kita ini kan negara kepulauan. Di daerah pinggiran, masyarakat bahkan tidak menganggap ini penyakit serius. Mereka hanya mengira ini batuk biasa,” paparnya.

Selain itu, Nihayatul juga menyoroti minimnya tenaga medis spesialis di banyak wilayah, seperti dokter paru dan dokter penyakit dalam.

“Untuk menjadikan eliminasi TBC sebagai program prioritas nasional, pemerintah perlu memperkuat alokasi anggaran dan mengintegrasikan program dengan pendekatan pendidikan masyarakat tentang pentingnya lingkungan hidup yang sehat,” paparnya.   dilansir dari situs resmi lombok post co.id.

Leave a Comment

javanica post

Javanica Post adalah portal berita online yang dikelola oleh PT. Javanica Media Digital, salah satu anak perusahaan dari Javanica Group.

Edtior's Picks

Latest Articles

©2024 javanica post. All Right Reserved. Designed and Developed by Rizarch